Rabu, 20 Januari 2010

Boikot

Memboikot seseorang, negara, perusahaan, organisasi dengan tujuan menunjukkan ketidaksetujuan kita atas tindakan mereka ternyata berfungsi cukup efektif.

Baru-baru ini di Spanyol contohnya, ada satu provinsi yang hendak memisahkan diri. Reaksi penduduk adalah tidak setuju atas usaha mereka tersebut, kemudian warga negara yang tidak setuju mulai memboikot produk-produk yang diproduksi di provinsi tersebut.

Tujuan pertama adalah menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap pemisahan diri provinsi itu yang menyatakan dirinya “bangsa yang lain”, ke dua, menurunnya keuntungan penjualan produk dari provinsi tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak dapat hidup tanpa penduduk dari provinsi-provinsi lainnya.
Ketiga sebagai tekanan dan peringatan atas usaha pemisahan diri ini.

Contoh lain, boikot terhadap produk-produk Israel bagi para pendukung Palestina.

Kita sebagai pembeli mempunyai daya memilih yang bisa kita pergunakan untuk boikot seperti contoh di atas.

Kalau di blog tetangga sedang panas dengan berbagai program sampah di televisi, mungkin “boikot” (dengan cara tidak menonton program tak bermutu) bisa menjadi salah satu jawaban dalam rangka ketidaksetujuan masyarakat terhadap program-program yang tidak mendidik.

Jika jumlah penonton program itu tidak memenuhi quota, maka program itu akan dihentikan oleh stasiun televisi tersebut.

Kita punya daya memilih. Memilih untuk dibodohi atau mencari aktifitas/program lain yang lebih mendidik atau berkualitas???

Namun mungkin sayangnya bermutu tidaknya suatu acara masih relatif. Di negara majupun kadang program-program tak bermutu tentang gosip dan reality show masih saja diminati oleh para pemirsa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar